Rabu, 4 November 2009

RIBA

Forum itu memutuskan: “Mereka yang bertransaksi dengan atau bank-bank konvensional dan menyerahkan harta dan tabungan mereka kepada bank agar menjadi wakil mereka dalam melaburkannya dalam berbagai kegiatan yang dibenarkan, dengan imbalan keuntungan yang diberikan kepada mereka serta ditetapkan terlebih dahulu pada waktu-waktu yang disepakati bersama orang-orang yang bertransaksi dengannya atas harta-harta itu, maka transaksi dalam bentuk ini adalah halal tanpa syubhat (kesamaran), kerana tidak ada teks keagamaan di dalam Alquran atau dari Sunnah Nabi yang melarang transaksi di mana ditetapkan keuntungan atau bunga terlebih dahulu, selama kedua belah pihak rela dengan bentuk transaksi tersebut.” (Maknanya pelaburan yg ditetapkan % keuntungan spt fixed deposit dll)
Penentuan laba (bunga) bagi investor di awal akad, menurut beliau, tak menyalahi syariat, selama dilakukan atas prinsip redha. “Sejak saat ini, berurusan dengan bank konvensional atau bank Islam, hukumnya sama saja, tidak ada bedanya. Kerana bunga bank itu hukumnya halal, halal dan halal”, ujar Tantawi.
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil. Tetapi (hendaklah) dengan perniagaan yang berdasar kerelaan di antara kamu. (QS. an-Nisa’: 29).
Dikemukakan juga dalam fatwa tersebut bahwa boleh jadi ada yang berkata: Bank-bank tersebut mungkin mengalami kerugian, maka bagaimana mereka menetapkan keuntungan terlebih dahulu bagi investor?
Jawabannya:
“Kalau bank itu rugi dalam satu transaksi, dia dapat memperoleh keuntungan dalam banyak transaksi lainnya. Dengan demikian keuntungan ini dapat menutupi kerugian itu.
Di samping itu, dalam keadaan rugi boleh saja persoalan dikembalikan kepada mahkamah. Kesimpulannya, penetapan keuntungan terlebih dahulu (spt 5% sebulan, 20% sebulan atau 30% setahun dll) bagi mereka yang menyimpanharta mereka melalui bank-bank atau selain bank adalah halal dan tanpa syubhat dalam transaksi itu.
Ini termasuk dalam persoalan “Al-Mashalih Al-Mursalah” , bukannya termasuk persoalan aqidah atau ibadat-ibadat yang tidak boleh dilakukan atas perubahan atau penggantian.
Tetapi, tentu saja ada ulama yang tidak bersetuju. Agaknya kita dapat berkata bahwa Bank-bank Syariah yang melaksanakan kegiatannya antara lain dalam bentuk mudharabah dan lain-lain, dapat dipastikan sejalan dengan tuntutan agama.
Namun demikian, bank konvensional tidak dapat dipastikan keharamannya, bahkan dia pun boleh jadi halal. Ini terbukti dengan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang sangat berwibawa itu. Memperoleh gaji/honorarium dari bank-bank tersebut dapat dibenarkan, bahkan walaupun bank-bank konvensional itu melakukan transaksi riba.Bekerja dan mendapat gaji di sanapun masih dapat dibenarkan, selama bank tersebut mempunyai aktiviti lain yang sifatnya halal. Begitu fatwa Mufti Mesir yang lalu, Syekh Jad al-Haq.
Aneka pendapat ulama bersumber dari Alquran dan Sunnah. Kedua sumber ajaran Islam itu, dapat kepelbagaian pendapat tersebut. Itu salah satu keistimewaan Islam.
Alquran diibaratkan Rasul dengan Hidangan Ilahi. Memang semakin kaya seseorang semakin beraneka ragam pula hidangannya. Kita dipersilakan memilih apa yang terhidang, sesuai dengan selera dan kemaslahatannya.Riba disepakati keharamannya, tetapi tidak disepakati apakah maknanya. Hal ini telah disedari sejak masa sahabat Nabi SAW -Kerana ayat riba termasuk salah satu ayat yang terakhir turun. Sayyidina Umar RA berkata, “Rasul SAW wafat sebelum menjelaskannya, maka tinggalkanlah apa yang meragukan kamu kepada apa yang tidak meragukan kamu”. Pendapat yg mengharamkan lahir dari sikap kehati-hatian, atau yang dilukiskan oleh ucapan Sayyidina Umar RA diatas.
Kerana itu jika ingin berhati-hati, maka ikutilah pendapat MUI itu. Sedang pendapat pemimpin tertinggi Al-Azhar Mesir, Syeikh Thanthawy, Syeikh Jad al-Haq dll yg membenarkan lebih melihat kepada perbezaan antara riba dan bunga bank dan memilih kemudahan untuk umat.

0 ulasan:

Catat Ulasan

 
;